Analisis makalah “Suatu Model Kaidah Pemenggalan Suku Pertama Pada Kata Bahasa Indonesia: Kasus Pada Huruf Awal B”:
1. Penggunaan bahasa dalam makalah ini sudah cukup baik, meskipun masih ada beberapa kalimat yang penggunaannya kurang tepat. Misalnya apda kalimat “Di antaranya muncul bidang pengetahuan seperti linguistic komputasional dan bahkan intelegensi biatan.” Terdapat kesalahan penggalan kata pada kata di antaranya, penulisan yang tepat adalah diantaranya.
2. Sistematika penulisan makalah sudah baik. Judul makalah ditulis dengan huruf kapital, cetak tebal dan penulisannya rata tengah.
Penandaan peringkat juga sudah benar, yaitu diberi penomoran seperti dibawah ini:
1. Pendahuluan
2. PemenggalanSuku Kata
2.1 PemenggalanSukuPertamapada Kata
2.2 KaidahPemenggalanSukuPertama
3. Percobaan
4. HasilPercobaan
5. Kesimpulan
3. Pokok bahasan dalam makalah ini, disampaikan secarfa rinci dan terurut. Bagian pendahuluan menjelaskan secara umum tentang apa inti dari makalah tersebut. Dan bagian isi membahas mengenai pemenggalan kata dan contoh-contohnya. Pada makalah ini juga berisi tentang percobaan yang telah dilakukan dan hasil dari percobaan tersebutpun dijelaskan secara terinci dalam makalah ini. Sehingga pembaca dapat mengetahui penjelasan secara detail mengenai masalah pemenggalan kata.
4. Penyajian tabel dan gambar dalam makalah ini, disajikan dengan baik dan memudahkan pembaca untuk mengerti permasalahan pemenggalan kata dan contoh-contohnya.
5. Daftar pustaka ditulis pada bagian akhir makalah ini. Tujuan penulisan daftar pustaka ini agar pembaca dapat mengetahui nara sumber dari penulisan dalam makalah tersebut.
Analisis makalah yang bertopik “Pengintergrasian Teknologi Informasi dalam Kelas” dengan judul “konferensi internasional pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing”.
1. Penggunaan bahasa dalam makalah ini sudah cukup baik, meskipun masih ada beberapa kalimat yang penggunaannya kurang tepat. Misalnya apda kalimat
2. Sistematika penulisan makalah sudah baik. Judul makalah ditulis dengan huruf kapital, cetak tebal dan penulisannya rata tengah.
Penandaan peringkat juga sudah benar, yaitu diberi penomoran seperti dibawah ini:
1. Abstraksi
2. Pendahuluan
3. Konsep sanding kata
4. Mesin pencari google sebagai sumber korpus sanding kata
5. Memastikan sanding kata yang tepat melalui google
6. Mencari sanding kata
7. Google dan Pencarian bahasa
8. Simpulan dan saran
3. Pokok bahasan dalam makalah ini, disampaikan secara rinci dan terurut. Bagian pendahuluan menjelaskan secara umum tentang apa inti dari makalah tersebut. Dan bagian isi membahas mengenai pemenggalan kata dan contoh-contohnya. Pada makalah ini juga berisi tentang percobaan yang telah dilakukan dan hasil dari percobaan tersebutpun dijelaskan secara terinci dalam makalah ini. Sehingga pembaca dapat mengetahui penjelasan secara detail mengenai masalah pemenggalan kata.
4. Penyajian tabel dan gambar dalam makalah ini, disajikan dengan baik dan memudahkan pembaca untuk mengerti permasalahan pemenggalan kata dan contoh-contohnya.
5. Daftar pustaka ditulis pada bagian akhir makalah ini. Tujuan penulisan daftar pustaka ini agar pembaca dapat mengetahui nara sumber dari penulisan dalam makalah tersebut.
kelompok : apriana (10108276)
fissheal manuel (10108833)
zeresy rahantoknam (12108139)
Tampilkan postingan dengan label bahasa indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa indonesia. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 Mei 2011
Selasa, 19 April 2011
tugas softskill (multimedia)
Hasil Analisis Fenomena Multimedia
• Dari segi kata dan kalimat
dilihat dari penggunaan kata-kata, terjadi banyak pengulangan kata dan pemborosan kata. Sehingga membuat kalimat menjadi panjang dan sulit dimengerti secara cepat dan efektif. Letak tanda baca dalam kalimat-kalimat pun masih kurang sehingga membuat nada baca tidak rapi.
• Kesatuan alinea
kesatuan alinea masih ada beberapa bagian alinea yang kurang terhubung dengan baik, sehingga tidak mudah dimengerti.
• Topik
Isi dari artikel ini sesuai dengan topik yang dibahas, dan topik ini juga menjelaskan tentang fenomena multimedia saat ini, agar kita bisa mengembangkannya dan menghargai hasil karya orang lain.
• Isi artikel
Dari keuda artikel tentang fenomena multimedia yang diberikan berisi penjelasan tentang fenomena multimedia, dampak dari multimedia dan bagaimana pemanfaatan multimedia tersebut dikalangan masyarakat.
• Logika
Logika yang digunakan dalam 2 artikel tersebut dapat dibuktikan kebenarannya, karena memang saat ini fenomena multimedia yang terjadi sesuai dengan isi artikel ini.
kelompok : apriana (10108276)
fissheal manuel (10108833)
zeresy rahantoknam (12108139)
kelas 3 ka 02
• Dari segi kata dan kalimat
dilihat dari penggunaan kata-kata, terjadi banyak pengulangan kata dan pemborosan kata. Sehingga membuat kalimat menjadi panjang dan sulit dimengerti secara cepat dan efektif. Letak tanda baca dalam kalimat-kalimat pun masih kurang sehingga membuat nada baca tidak rapi.
• Kesatuan alinea
kesatuan alinea masih ada beberapa bagian alinea yang kurang terhubung dengan baik, sehingga tidak mudah dimengerti.
• Topik
Isi dari artikel ini sesuai dengan topik yang dibahas, dan topik ini juga menjelaskan tentang fenomena multimedia saat ini, agar kita bisa mengembangkannya dan menghargai hasil karya orang lain.
• Isi artikel
Dari keuda artikel tentang fenomena multimedia yang diberikan berisi penjelasan tentang fenomena multimedia, dampak dari multimedia dan bagaimana pemanfaatan multimedia tersebut dikalangan masyarakat.
• Logika
Logika yang digunakan dalam 2 artikel tersebut dapat dibuktikan kebenarannya, karena memang saat ini fenomena multimedia yang terjadi sesuai dengan isi artikel ini.
kelompok : apriana (10108276)
fissheal manuel (10108833)
zeresy rahantoknam (12108139)
kelas 3 ka 02
tugas softskill (proposisi)
I. Tentukan bentuk proposisi yang tepat pada pernyataan di bawah ini!
- Bahasa adalah sarana penalaran
Pernyataan ini termasuk proposisi Afirmatif Universal (A), maksudnya kalimat bahasa merupakan kuantifikator yang bersifat universal, karena kalimat bahasa disini menjelaskan bahwa semua bahasa adalah saranan penalaran untuk bahasa verbal dan bahasa non verbal.
Setiap proposisi berkaitan dengan bagian yang lain, term predikat mengamdung term subyek. Proposisi afirmatif merupakan proposisi yang didalamnya terdapat term predikat yang mengandung term subyek.
Term subyek dalam pernyataan disini adalah Bahasa, sedangkan Sarana penalaran dalam pernyataan ini adalah Term predikatnya.
- sifat kuantitatif matematika meningkatkan daya prediksi ilmu.
Pernyataan ini termasuk proposisi Negatif Universal (E), maksudnya menyangkal proposisi untuk kuantifikator yang bersifat universal, dalam pernyataan ini subyeknya adalah sifat kuantitatif matematika. Tidak semua sifat kuantitatif matematika dapat meningkatkan daya prediksi ilmu.
Term subyek dalam pernyataan disini adalah Kuantitatif matematika, sedangkan meningkatkan daya prediksi ilmu dalam pernyataan ini adalah Term predikatnya.
- Bagaimana peranan bahasa dalam proses penalaran?
Pernyataan ini tidak termasuk bentuk roposisi, karena merupakan kalimat pertanyaan.
- Semoga saja penelitian ini berhasil!
Pernyataan ini tidak termasuk bentuk roposisi, karena merupakan kalimat perintah.
II. Temukan kalimat abstrak dalam bahasa logika predikat untuk kalimat bahasa manusia berikut ini :
a. Untuk semua manusia, tidak ada manusia yang abadi.
Kalimat tidak ada manusia merupakan kalimat abstrak.
manusia abadi
predikat
b. Socrates adalah manusia
Dalam kalimat ini tidak terdapat kalimat abstrak.
scorates manusia
predikat
c. Jika socrates adalah manusia dan Untuk semua manusia, tidak ada manusia yang abadi maka socrates tidak abadi.
Kalimat tidak ada manusia dan kalimat maka socrates tidak abadi merupakan kalimat abstrak
manusia, abadi, Socrates.
predikat
d. Jika semua bilangan prima adalah bilangan ganjil maka beberapa bilangan genap adalah bilangan prima.
Kalimat bilangan genap adalah bilangan prima merupakan kalimat abstrak
bilangan, genap, prima.
predikat
kelompok : apriana (10108276)
fissheal manuel ( 10108833)
zeresy rahantoknam (12108139)
- Bahasa adalah sarana penalaran
Pernyataan ini termasuk proposisi Afirmatif Universal (A), maksudnya kalimat bahasa merupakan kuantifikator yang bersifat universal, karena kalimat bahasa disini menjelaskan bahwa semua bahasa adalah saranan penalaran untuk bahasa verbal dan bahasa non verbal.
Setiap proposisi berkaitan dengan bagian yang lain, term predikat mengamdung term subyek. Proposisi afirmatif merupakan proposisi yang didalamnya terdapat term predikat yang mengandung term subyek.
Term subyek dalam pernyataan disini adalah Bahasa, sedangkan Sarana penalaran dalam pernyataan ini adalah Term predikatnya.
- sifat kuantitatif matematika meningkatkan daya prediksi ilmu.
Pernyataan ini termasuk proposisi Negatif Universal (E), maksudnya menyangkal proposisi untuk kuantifikator yang bersifat universal, dalam pernyataan ini subyeknya adalah sifat kuantitatif matematika. Tidak semua sifat kuantitatif matematika dapat meningkatkan daya prediksi ilmu.
Term subyek dalam pernyataan disini adalah Kuantitatif matematika, sedangkan meningkatkan daya prediksi ilmu dalam pernyataan ini adalah Term predikatnya.
- Bagaimana peranan bahasa dalam proses penalaran?
Pernyataan ini tidak termasuk bentuk roposisi, karena merupakan kalimat pertanyaan.
- Semoga saja penelitian ini berhasil!
Pernyataan ini tidak termasuk bentuk roposisi, karena merupakan kalimat perintah.
II. Temukan kalimat abstrak dalam bahasa logika predikat untuk kalimat bahasa manusia berikut ini :
a. Untuk semua manusia, tidak ada manusia yang abadi.
Kalimat tidak ada manusia merupakan kalimat abstrak.
manusia abadi
predikat
b. Socrates adalah manusia
Dalam kalimat ini tidak terdapat kalimat abstrak.
scorates manusia
predikat
c. Jika socrates adalah manusia dan Untuk semua manusia, tidak ada manusia yang abadi maka socrates tidak abadi.
Kalimat tidak ada manusia dan kalimat maka socrates tidak abadi merupakan kalimat abstrak
manusia, abadi, Socrates.
predikat
d. Jika semua bilangan prima adalah bilangan ganjil maka beberapa bilangan genap adalah bilangan prima.
Kalimat bilangan genap adalah bilangan prima merupakan kalimat abstrak
bilangan, genap, prima.
predikat
kelompok : apriana (10108276)
fissheal manuel ( 10108833)
zeresy rahantoknam (12108139)
tugas softskill (sebab-akibat)
1. Sebab akibat
Dalam urutan sebab-akibat, penulis memulai proses kreatif menulis dengan membicarakan permasalahan yang menyebabkan terjadinya masalah yang lain. Jelaskan pernyataan tersebut!
Jawab :
suatu masalah yang terjadi tentu ada sesuatu hal yang mengawalinya. Suatu masalah akan muncul dan memunculkan maslaah baru juga. Hal ini lah yang dapat kita bahas dalam sebuah tulisan, sebab akibat dari timbulnya suatu masalah dan akibat dari masalah tersebut.
2. Deskripsi merupakan sebuah karangan yang mengajak pembacanya untuk dapat mendengar, melihat dan merasakan secara langsung. Jelaskan pengertian deskripsi dan uraiakan pernyataan di atas disertai contoh yang jelas!
Jawab :
deskripsi adalah salah satu bentuk karangan yang berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
Contoh karangan deskripsi :
Tepat pukul 12 siang, matahari terik menyinari alam ini. Aku baru saja keluar kelas dan segeran menuju rumah dengan menggunakan sepeda motor kesayanganku. Tidak sengaja dipertengahan jalan aku melewati sebuah took yang dipadati oleh banyak pengunjung, ternyata ada spanduk ayng bertuliskan “Sale up to 80%”. Tidak heran banyak sekali orang disana.
3. Dalam bab pertama pendahuluan dari sebuah laporan meliputi perumusan masalah yang hendak dipaparkan dalam laporan. Buatlah ide penelitian dan tulis perumusan masalah secara jelas.
Jawab :
Ide penelitian :
mebuat e-learning
Perumusan masalah :
1. Terbatasnya waktu belajar di sekolah.
2. Ketidaknyamanan seorang guru yang mengajar.
3. Sulit memahami pelajaran dalam suasana ramai dikelas.
4. Selesaikan soal silogisme di bawah ini :
a. Premis My : Semua negara di Asia Tenggara yang sedang berkembang tergabung dalam ASEAN
Premis Mn : Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang di Asia
Kesimpulan : Indonesia tergabung dalam ASEAN.
b. My : Beberapa nelayan memiliki perahu bermotor
Mn : Beberapa tengkulak memiliki perahu bermotor
kesimpulan : beberapa nelayan dan tengkulak memiliki perahu bermotor.
Jelaskan pernyataan kalimat di atas dalam konsep berpikir induktif!
c. Karena kakak mengidap penyakit maag, maka kakak tidak boleh makan makanan yang asam.
• Kakak tidak boleh makan makanan yang asam , karena kakak mengidap maag.
d. Karena mengidap penyakit lever, ayah tidak boleh makan hidangan yang berlemak.
• Ayah tidak boleh makan hidangan yang berlemak, karena ayah mengidap lever.
6. Misalnya Anda mengemukakan gagasan bahwa tinggal di daerah kumuh tidak baik bagi kesehatan. Gagasan yang dilengkapi dengan keterangan dan informasi ini menggunakan metode induktif.
Rancang latar belakang, lingkup permasalahan dan tujuan penelitian pada ide tersebut!
• Latar belakang :
Pada saat sekarang ini perkembangan teknologi dan zaman sudah semakin maju dan luas. Segala sesuatunya dapat dilakukan dengan bantuan teknologi. Penduduk yang berkecukupan semakin berkecukupan. Sedangkan rakyat yang sengsara oleh factor perekonomian yang rendah sekarang ini membuat rakyat menderita. Masih banyak sekali rakyat Indonesia yang tinggal didaerah pemukiman kumuh. Walaupun pemerintah tahu pemukiman itu sanagt tidak pantas dan tidak layak ditempati karena tidak baik bagi kesehatan terutama pada balita.
• Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini, ditujukan untuk membuka hati kita agar mau membantu rakyat yang sedang kesulitan dalam menjalani hidupnya. Warga yang tinggal dipemukiman kumuh sanagt mudah terkena virus, virus yang berasal dari tempat tinggal mereka sendiri.
7. Identifikasi kesalahan pada pernyataan di bawah ini dalam konsep berpikir deduktif!
a. Semua pelaku kejahatan adalah korban rumah tangga.
b. Saya tidak pandai berenang. Hampir semua anggota keluarga saya tidak dapat berenang.
Jawab :
a. Semua
b. hampir
kelompok : apriana (10108276)
fissheal manuel (10108833)
zeresy rahantoknam (12108139)
kelas 3KA02
Dalam urutan sebab-akibat, penulis memulai proses kreatif menulis dengan membicarakan permasalahan yang menyebabkan terjadinya masalah yang lain. Jelaskan pernyataan tersebut!
Jawab :
suatu masalah yang terjadi tentu ada sesuatu hal yang mengawalinya. Suatu masalah akan muncul dan memunculkan maslaah baru juga. Hal ini lah yang dapat kita bahas dalam sebuah tulisan, sebab akibat dari timbulnya suatu masalah dan akibat dari masalah tersebut.
2. Deskripsi merupakan sebuah karangan yang mengajak pembacanya untuk dapat mendengar, melihat dan merasakan secara langsung. Jelaskan pengertian deskripsi dan uraiakan pernyataan di atas disertai contoh yang jelas!
Jawab :
deskripsi adalah salah satu bentuk karangan yang berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
Contoh karangan deskripsi :
Tepat pukul 12 siang, matahari terik menyinari alam ini. Aku baru saja keluar kelas dan segeran menuju rumah dengan menggunakan sepeda motor kesayanganku. Tidak sengaja dipertengahan jalan aku melewati sebuah took yang dipadati oleh banyak pengunjung, ternyata ada spanduk ayng bertuliskan “Sale up to 80%”. Tidak heran banyak sekali orang disana.
3. Dalam bab pertama pendahuluan dari sebuah laporan meliputi perumusan masalah yang hendak dipaparkan dalam laporan. Buatlah ide penelitian dan tulis perumusan masalah secara jelas.
Jawab :
Ide penelitian :
mebuat e-learning
Perumusan masalah :
1. Terbatasnya waktu belajar di sekolah.
2. Ketidaknyamanan seorang guru yang mengajar.
3. Sulit memahami pelajaran dalam suasana ramai dikelas.
4. Selesaikan soal silogisme di bawah ini :
a. Premis My : Semua negara di Asia Tenggara yang sedang berkembang tergabung dalam ASEAN
Premis Mn : Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang di Asia
Kesimpulan : Indonesia tergabung dalam ASEAN.
b. My : Beberapa nelayan memiliki perahu bermotor
Mn : Beberapa tengkulak memiliki perahu bermotor
kesimpulan : beberapa nelayan dan tengkulak memiliki perahu bermotor.
Jelaskan pernyataan kalimat di atas dalam konsep berpikir induktif!
c. Karena kakak mengidap penyakit maag, maka kakak tidak boleh makan makanan yang asam.
• Kakak tidak boleh makan makanan yang asam , karena kakak mengidap maag.
d. Karena mengidap penyakit lever, ayah tidak boleh makan hidangan yang berlemak.
• Ayah tidak boleh makan hidangan yang berlemak, karena ayah mengidap lever.
6. Misalnya Anda mengemukakan gagasan bahwa tinggal di daerah kumuh tidak baik bagi kesehatan. Gagasan yang dilengkapi dengan keterangan dan informasi ini menggunakan metode induktif.
Rancang latar belakang, lingkup permasalahan dan tujuan penelitian pada ide tersebut!
• Latar belakang :
Pada saat sekarang ini perkembangan teknologi dan zaman sudah semakin maju dan luas. Segala sesuatunya dapat dilakukan dengan bantuan teknologi. Penduduk yang berkecukupan semakin berkecukupan. Sedangkan rakyat yang sengsara oleh factor perekonomian yang rendah sekarang ini membuat rakyat menderita. Masih banyak sekali rakyat Indonesia yang tinggal didaerah pemukiman kumuh. Walaupun pemerintah tahu pemukiman itu sanagt tidak pantas dan tidak layak ditempati karena tidak baik bagi kesehatan terutama pada balita.
• Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini, ditujukan untuk membuka hati kita agar mau membantu rakyat yang sedang kesulitan dalam menjalani hidupnya. Warga yang tinggal dipemukiman kumuh sanagt mudah terkena virus, virus yang berasal dari tempat tinggal mereka sendiri.
7. Identifikasi kesalahan pada pernyataan di bawah ini dalam konsep berpikir deduktif!
a. Semua pelaku kejahatan adalah korban rumah tangga.
b. Saya tidak pandai berenang. Hampir semua anggota keluarga saya tidak dapat berenang.
Jawab :
a. Semua
b. hampir
kelompok : apriana (10108276)
fissheal manuel (10108833)
zeresy rahantoknam (12108139)
kelas 3KA02
Jumat, 18 Maret 2011
Jenis Kata Keterangan
Cara penggolongan kata keterangan keterangan bermacam-macam tergantung dari sumber rujukan yang digunakan. Berikut salah satu cara pembagian kata keterangan.
1. Kata keterangan alat. Misalnya: dengan.
2. Kata keterangan kesertaan. Misalnya: bersama.
3. Kata keterangan perlawanan. Misalnya: meskipun.
4. Kata keterangan tujuan. Misalnya: untuk.
5. Kata keterangan sebab. Misalnya: karena.
6. Kata keterangan akibat. Misalnya: maka.
7. Kata keterangan waktu. Misalnya: kemarin.
8. Kata keterangan tempat. Misalnya: sana.
9. Kata keterangan syarat. Misalnya: jika.
10. Kata keterangan derajat. Misalnya: sedikit, banyak.
11. Kata keterangan keadaan. Misalnya: sungguh-sungguh.
12. Kata keterangan kepastian. Misalnya: mungkin.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Adverbia
1. Kata keterangan alat. Misalnya: dengan.
2. Kata keterangan kesertaan. Misalnya: bersama.
3. Kata keterangan perlawanan. Misalnya: meskipun.
4. Kata keterangan tujuan. Misalnya: untuk.
5. Kata keterangan sebab. Misalnya: karena.
6. Kata keterangan akibat. Misalnya: maka.
7. Kata keterangan waktu. Misalnya: kemarin.
8. Kata keterangan tempat. Misalnya: sana.
9. Kata keterangan syarat. Misalnya: jika.
10. Kata keterangan derajat. Misalnya: sedikit, banyak.
11. Kata keterangan keadaan. Misalnya: sungguh-sungguh.
12. Kata keterangan kepastian. Misalnya: mungkin.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Adverbia
Kata Keterangan
Kata Keterangan atau Adverbia
Kata-kata Keterangan atau adverbia adalah kata –kata yang memberi keterangan tentang:
1. Kata Kerja
2. Kata Sifat
3. Kata Keterangan
4. Kata Bilangan
5. Seluruh Kalimat
Kata keterangan secara tradisional dapat dibagi-bagi lagi atas beberapa macam berdasarkan artinya atau lebih baik berdasarkan fungsinya dalam kalimat, yaitu:
A. Kata Keterangan Kualitatif (Adverbium Kualitatif)
Adalah Kata Keterangan yang menerangkan atau menjelaskan suasana atau situasi dari suatu perbuatan.
Contoh: Ia berjalan perlahan-perlahan
Ia menyanyi dengan nyaring
Biasanya Kata Keterangan ini dinyatakan dengan mempergunakan kata depan dengan + Kata Sifat. Jadi sudah tampak di sini bahwa Kata Keterangan itu bukan merupakan suatu jenis kata tetapi adalah suatu fungsi atau jabatan dari suatu kata atau kelompok kata dalam sebuah kalimat.
B. Kata Keterangan Waktu (Adverbium Temporal)
Adalah keterangan yang menunjukkan atau menjelaskan berlangsungnya suatu peristiwa dalam suatu bidang waktu: sekarang, nanti, kemarin, kemudian, sesudah itu, lusa, sebelum, minggu depan, bulan depan, dan lain-lain.
Kata-kata seperti: sudah, telah, akan, sedang, tidak termasuk dalam keterangan waktu, sebab kata-kata tersebut tidak menunjukkan suatu bidang waktu berlangsungnya suatu tindakan, tetapi menunjukkan berlangsungnya suatu peristiwa secara obyektif.
C. Kata Keterangan Tempat (Adverbium Lokatif)
Segala macam kata ini memberi penjelasan atas berlangsungnya suatu peristiwa atau perbuatan dalam suatu ruang, seperti: di sini, di situ, di sana, ke mari, ke sana, di rumah, di Bandung, dari Jakarta dan sebagainya.
Dari contoh-contoh di atas tyang secara konvensional dianggap Kata Keterangan Tempat, jelas tampak bahwa golongan kata ini pun bukan suatu jenis kata, tetapi merupakan suatu kelompok kata yang menduduki suatu fungsi tertentu dalam kalimat. Keterangan Tempat yang dimaksudkan dalam Tatabahasa-tatabahasa lama terdiri dari dua bagian yaitu kata depan (di, ke, dari) dan kata benda atau kata ganti penunjuk.
D. Kata Keterangan Cara (Keterangan Modalitas)
Adalah kata-kata yang menjelaskan suatu peristiwa karena tanggapan si pembicara atas berlangsungnya peristiwa tersebut. Dalam hal ini subyektivitas lebih ditonjolkan. Keterangan ini menunjukkan sikap pembicara, bagaimana cara ia melihat persoalan tersebut. Pernyataan sikap pembicara atau tanggapan pembicara atas berlangsungnya peristiwa tersebut dapat berupa:
1. Kepastian : memang, niscaya, pasti, sungguh, tentu, tidak, bukannya, bukan.
2. Pengakuan : ya, benar, betul, malahan, sebenarnya.
3. Kesangsian : agaknya, barangkali, entah, mungkin, rasanya, rupanya, dan lain-lain.
4. Keinginan : moga-moga, mudah-mudahan.
5. Ajakan : baik, mari, hendaknya, kiranya.
6. Larangan : jangan.
7. Keheranan : masakan, mustahil, mana boleh.
sumber : http://tata-bahasa.110mb.com/Kata%20Keterangan%20atau%20Adverbia.htm
Kata-kata Keterangan atau adverbia adalah kata –kata yang memberi keterangan tentang:
1. Kata Kerja
2. Kata Sifat
3. Kata Keterangan
4. Kata Bilangan
5. Seluruh Kalimat
Kata keterangan secara tradisional dapat dibagi-bagi lagi atas beberapa macam berdasarkan artinya atau lebih baik berdasarkan fungsinya dalam kalimat, yaitu:
A. Kata Keterangan Kualitatif (Adverbium Kualitatif)
Adalah Kata Keterangan yang menerangkan atau menjelaskan suasana atau situasi dari suatu perbuatan.
Contoh: Ia berjalan perlahan-perlahan
Ia menyanyi dengan nyaring
Biasanya Kata Keterangan ini dinyatakan dengan mempergunakan kata depan dengan + Kata Sifat. Jadi sudah tampak di sini bahwa Kata Keterangan itu bukan merupakan suatu jenis kata tetapi adalah suatu fungsi atau jabatan dari suatu kata atau kelompok kata dalam sebuah kalimat.
B. Kata Keterangan Waktu (Adverbium Temporal)
Adalah keterangan yang menunjukkan atau menjelaskan berlangsungnya suatu peristiwa dalam suatu bidang waktu: sekarang, nanti, kemarin, kemudian, sesudah itu, lusa, sebelum, minggu depan, bulan depan, dan lain-lain.
Kata-kata seperti: sudah, telah, akan, sedang, tidak termasuk dalam keterangan waktu, sebab kata-kata tersebut tidak menunjukkan suatu bidang waktu berlangsungnya suatu tindakan, tetapi menunjukkan berlangsungnya suatu peristiwa secara obyektif.
C. Kata Keterangan Tempat (Adverbium Lokatif)
Segala macam kata ini memberi penjelasan atas berlangsungnya suatu peristiwa atau perbuatan dalam suatu ruang, seperti: di sini, di situ, di sana, ke mari, ke sana, di rumah, di Bandung, dari Jakarta dan sebagainya.
Dari contoh-contoh di atas tyang secara konvensional dianggap Kata Keterangan Tempat, jelas tampak bahwa golongan kata ini pun bukan suatu jenis kata, tetapi merupakan suatu kelompok kata yang menduduki suatu fungsi tertentu dalam kalimat. Keterangan Tempat yang dimaksudkan dalam Tatabahasa-tatabahasa lama terdiri dari dua bagian yaitu kata depan (di, ke, dari) dan kata benda atau kata ganti penunjuk.
D. Kata Keterangan Cara (Keterangan Modalitas)
Adalah kata-kata yang menjelaskan suatu peristiwa karena tanggapan si pembicara atas berlangsungnya peristiwa tersebut. Dalam hal ini subyektivitas lebih ditonjolkan. Keterangan ini menunjukkan sikap pembicara, bagaimana cara ia melihat persoalan tersebut. Pernyataan sikap pembicara atau tanggapan pembicara atas berlangsungnya peristiwa tersebut dapat berupa:
1. Kepastian : memang, niscaya, pasti, sungguh, tentu, tidak, bukannya, bukan.
2. Pengakuan : ya, benar, betul, malahan, sebenarnya.
3. Kesangsian : agaknya, barangkali, entah, mungkin, rasanya, rupanya, dan lain-lain.
4. Keinginan : moga-moga, mudah-mudahan.
5. Ajakan : baik, mari, hendaknya, kiranya.
6. Larangan : jangan.
7. Keheranan : masakan, mustahil, mana boleh.
sumber : http://tata-bahasa.110mb.com/Kata%20Keterangan%20atau%20Adverbia.htm
Konsep Dan Simbol Dalam Penalaran
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
Metode Penalaran
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.
Metode induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
Metode induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
Kalimat Proposisi
Kalimat Proposisi
Proposisi adalah sebuah kalimat netral.
Proposisi dibagi menjadi 4 jenis/aspek :
1. Bentuk: Tunggal dan jamak.
Proposisi tunggal adalah proposisi yang memiliki satu subjek dan satu predikat.
Contoh:
Proposisi majemuk adalah proposisi yang memiliki satu subjek dan lebih dari satu predikat.
Contoh:
- Agnes monica bernyanyi dan menari.
- Ayah memancing dan memakan ikan.
2. Sifat: kategorial dan kondisional.
Proposisi kategorial adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikatnya tidak mempunyai syarat apapun.
Contoh:
- Semua bayi menangis di malam hari
- Setiap rumah memiliki atap
Proposisi kondisional dibagi menjadi 2 yaitu:
Proposisi hipotesis adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat membutuhkan syarat tertentu.
Contoh:
- Jika lampu menyala, ruangan terlihat terang
- Jika air dimasukkan ke kulkas maka akan terasa dingin
Proposisi disjungtif adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat tidak membutuhkan syarat tertentu.
Contoh:
- Kursi itu berwarna coklat atau hitam
- Adik membaca buku pelajaran atau komik.
3. Kualitas: Afirmatif/positif dan negative.
Proposisi afirmatif adalah proposisi dimana predikatnya mendukung atau membenarkan subjeknya.
Contoh:
- Semua sepatu dipakai di kaki
- Semua ayam betina berkotek
Proposisi negative adalah proposisi dimanan predikatnya menolak atau tidak mendukung subjeknya.
Contoh:
- Tidak ada satupun laki-laki yang memakai rok
- Tidak ada satupun manusia yang hidup kekal di dunia ini
4. Kuantitas: Universal dan spesifik/khusus.
Proposisi universal adalah proposisi dimana predikatnya mendukung atau mengingkari semua.
Contoh:
- Tidak ada satupun kipas angin yang tidak mengeluarkan angin.
- Tidak ada satupun hewan herbivora yang memakan daging.
sumber : http://nadiramigos.blogspot.com/2010/05/kalimat-proposisi.html
Proposisi adalah sebuah kalimat netral.
Proposisi dibagi menjadi 4 jenis/aspek :
1. Bentuk: Tunggal dan jamak.
Proposisi tunggal adalah proposisi yang memiliki satu subjek dan satu predikat.
Contoh:
Proposisi majemuk adalah proposisi yang memiliki satu subjek dan lebih dari satu predikat.
Contoh:
- Agnes monica bernyanyi dan menari.
- Ayah memancing dan memakan ikan.
2. Sifat: kategorial dan kondisional.
Proposisi kategorial adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikatnya tidak mempunyai syarat apapun.
Contoh:
- Semua bayi menangis di malam hari
- Setiap rumah memiliki atap
Proposisi kondisional dibagi menjadi 2 yaitu:
Proposisi hipotesis adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat membutuhkan syarat tertentu.
Contoh:
- Jika lampu menyala, ruangan terlihat terang
- Jika air dimasukkan ke kulkas maka akan terasa dingin
Proposisi disjungtif adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat tidak membutuhkan syarat tertentu.
Contoh:
- Kursi itu berwarna coklat atau hitam
- Adik membaca buku pelajaran atau komik.
3. Kualitas: Afirmatif/positif dan negative.
Proposisi afirmatif adalah proposisi dimana predikatnya mendukung atau membenarkan subjeknya.
Contoh:
- Semua sepatu dipakai di kaki
- Semua ayam betina berkotek
Proposisi negative adalah proposisi dimanan predikatnya menolak atau tidak mendukung subjeknya.
Contoh:
- Tidak ada satupun laki-laki yang memakai rok
- Tidak ada satupun manusia yang hidup kekal di dunia ini
4. Kuantitas: Universal dan spesifik/khusus.
Proposisi universal adalah proposisi dimana predikatnya mendukung atau mengingkari semua.
Contoh:
- Tidak ada satupun kipas angin yang tidak mengeluarkan angin.
- Tidak ada satupun hewan herbivora yang memakan daging.
sumber : http://nadiramigos.blogspot.com/2010/05/kalimat-proposisi.html
Minggu, 09 Januari 2011
DAFTAR PUSTAKA
ADA BEBERAPA CARA PENULISAN DAFTAR PUSTAKA :
1. Penulisan daftar pustaka dalam pengambilan data dari internet, pertama; tulis nama, kedua; tulis tahun buku atau tulisan dibuat dalam tanda kurung setelah itu beri tanda titik, ketiga; tulis judul buku/tulisannya lalu beri tanda titik lagi, keempat; tulis alamat websitenya gunakan kata (from) untuk awal judul web dll setelah itu beri tanda koma, kelima; tulis tanggal pengambilan data tersebut ok. Seperti contoh dibawah ini:
Arikunto, S. (2005). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
2. Penulisan daftar pustaka dalam pengambilan data dari buku, pertama; penulisan nama untuk awal menggunakan huruf besar terlebih dahulu setelah nama belakang ditulis beri (tanda koma), dimulai dari nama belakang lalu beri (tanda koma) dan dilanjutkan dengan nama depan, kedua; tahun pembuatan atau penerbitan buku, ketiga; judul bukunya ingat ditulis dengan mengunakan huruf miring setelah judul gunakan (tanda titik), keempat; tempat diterbitkannya setelah tempat penerbitan gunakan (tanda titik dua), dan kelima; penerbit buku tersebut diakhiri dengan (tanda titik). Seperti contoh dibawah ini:
Depdiknas. (2007). Pedoman Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Dirjen
Manajemen Dikdasmen, Dirpom Tk dan SD, BNSP.
Haryanto, (2003). Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hollands Roy, (1983). Kamus Matematika Departement of Mathematics Dundee Colloge of Education. Jakarta: Erlangga
3. Penulisan daftar pustaka yang lebih dari satu/dua orang penulis dalam buku yang sama. Pertama tulis nama belakang dari penulis yang pertama setelah nama belakang beri (tanda koma) lalu tulis nama depan jika nama depan berupa singkatan tulis saja singkatan itu setelah nama pertama selesai beri (tanda titik) lalu beri (tanda koma) untuk nama kedua / ketiga ditulis sama seperti nama sali alis tidak ada perubahan, yang berubah penulisannya hanya orang pertama sedangkan orang kedua dan ketiga tetap. Setelah penulisan nama kedua selesai, nah jika tiga penulis gunakan tanda dan (&) pada nama terakhir begitupula jika penulisnya hanya dua orang saja, setelah penulisan nama selesai, Kedua; tahun pembuatan atau cetakan buku tersebut dengan diawali [tanda kurung buka dan kurung tutup/ ( )] setelah itu beri (tanda titik). Ketiga; judul buku atau karangan setelah itu beri (tanda koma) dan ditulis dengan huruf miring ok. keempat; yaitu penulisan tempat penerbitan/cetakan setelah itu beri (tanda titik dua : ) dan terakhir kelima; nama perusahaan penerbit buku atau tulisan tersebut dan diakhiri (tanda titik) ok. Untuk gelar akademik tidak ditulis dalam penulisan daftar pustaka. Nah ini contohnya Seperti dibawah ini:
Sinaga, M. et al. (2006). Terampil Berhitung Matematika untuk SD Kelas IV. Jakarta: Erlangga
Suryabrata, S. (2002). Metodologi Penelitian Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Suherman, E. et al (2001). Common Textbook Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jica UPI
Cara penulisan daftar pustaka:
- penulisan daftar pustaka yang banyak harus berurutan penulisannya.
- Nama dari sumber yang diambil sebagai daftar putaka ditulis berdasarkan urutan Abjad dari nama masing-masing tersebut, dimulai dengan Abjad A-Z itulah urutan penulisan daftar pustaka yang baik yaitu sesuai dengan urutan nama-namanya
1. Penulisan daftar pustaka dalam pengambilan data dari internet, pertama; tulis nama, kedua; tulis tahun buku atau tulisan dibuat dalam tanda kurung setelah itu beri tanda titik, ketiga; tulis judul buku/tulisannya lalu beri tanda titik lagi, keempat; tulis alamat websitenya gunakan kata (from) untuk awal judul web dll setelah itu beri tanda koma, kelima; tulis tanggal pengambilan data tersebut ok. Seperti contoh dibawah ini:
Arikunto, S. (2005). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
2. Penulisan daftar pustaka dalam pengambilan data dari buku, pertama; penulisan nama untuk awal menggunakan huruf besar terlebih dahulu setelah nama belakang ditulis beri (tanda koma), dimulai dari nama belakang lalu beri (tanda koma) dan dilanjutkan dengan nama depan, kedua; tahun pembuatan atau penerbitan buku, ketiga; judul bukunya ingat ditulis dengan mengunakan huruf miring setelah judul gunakan (tanda titik), keempat; tempat diterbitkannya setelah tempat penerbitan gunakan (tanda titik dua), dan kelima; penerbit buku tersebut diakhiri dengan (tanda titik). Seperti contoh dibawah ini:
Depdiknas. (2007). Pedoman Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Dirjen
Manajemen Dikdasmen, Dirpom Tk dan SD, BNSP.
Haryanto, (2003). Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hollands Roy, (1983). Kamus Matematika Departement of Mathematics Dundee Colloge of Education. Jakarta: Erlangga
3. Penulisan daftar pustaka yang lebih dari satu/dua orang penulis dalam buku yang sama. Pertama tulis nama belakang dari penulis yang pertama setelah nama belakang beri (tanda koma) lalu tulis nama depan jika nama depan berupa singkatan tulis saja singkatan itu setelah nama pertama selesai beri (tanda titik) lalu beri (tanda koma) untuk nama kedua / ketiga ditulis sama seperti nama sali alis tidak ada perubahan, yang berubah penulisannya hanya orang pertama sedangkan orang kedua dan ketiga tetap. Setelah penulisan nama kedua selesai, nah jika tiga penulis gunakan tanda dan (&) pada nama terakhir begitupula jika penulisnya hanya dua orang saja, setelah penulisan nama selesai, Kedua; tahun pembuatan atau cetakan buku tersebut dengan diawali [tanda kurung buka dan kurung tutup/ ( )] setelah itu beri (tanda titik). Ketiga; judul buku atau karangan setelah itu beri (tanda koma) dan ditulis dengan huruf miring ok. keempat; yaitu penulisan tempat penerbitan/cetakan setelah itu beri (tanda titik dua : ) dan terakhir kelima; nama perusahaan penerbit buku atau tulisan tersebut dan diakhiri (tanda titik) ok. Untuk gelar akademik tidak ditulis dalam penulisan daftar pustaka. Nah ini contohnya Seperti dibawah ini:
Sinaga, M. et al. (2006). Terampil Berhitung Matematika untuk SD Kelas IV. Jakarta: Erlangga
Suryabrata, S. (2002). Metodologi Penelitian Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Suherman, E. et al (2001). Common Textbook Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jica UPI
Cara penulisan daftar pustaka:
- penulisan daftar pustaka yang banyak harus berurutan penulisannya.
- Nama dari sumber yang diambil sebagai daftar putaka ditulis berdasarkan urutan Abjad dari nama masing-masing tersebut, dimulai dengan Abjad A-Z itulah urutan penulisan daftar pustaka yang baik yaitu sesuai dengan urutan nama-namanya
KUTIPAN
Pengertian:
Kutipan merupakan suatu gagasan atau ide / pendapat yang diambil dari suatu sumber tertentu. Ada beberapa contoh sumber pengambilan gagasan, kamus, ensiklopedia, artikel, buku, novel, cerita, majala, internet, laporan, dan sebagainya. Proses saat pengambilan gagasan / ide tersebut disebut dengan mengutip.
Dalam penulisan ilmiah diperlukan adanya kutipan – kutipan yang dapat menjadi sumber penulisan tersebut. Sebuah kutipan dapat mengokohkan suatu argumentasi dari sebuah karangan. Seorang penulis tidak perlu membuang waktu untuk menyelidiki suatu hal yang sudah dibuktikan kebenarannya oleh penulis lain, penulis cukup mengutip karya orang lain tersebut. Dalam tulisan ilmiah, baik berupa artikel, karya tulis, skripsi, tesis, dan disertasi selalu terdapat kutipan.
Kutipan tersebut bertujuan sebagai :
- Landasan teori
- Penguat pendapat dari penulis
- Bahan bukti untuk menunjang pendapat tersebut
- Penjelasan suatu uraian
Hal hal yang perlu diperhatikan oleh seorang penulis :
- penulis mempertimbangkan bahwa kutipan itu perlu
- penulis bertanggung jawab penuh terhadap ketepatan dan ketelitian kutipan
- kutipan dapat terkait dengan penemuan teori
- jangan terlalu banyak mempergunakan kutipan langsung
- penulis mempertimbangkan jenis kutipan, kutipan langsung atau kutipan tak langsung
- perhatikan teknik penulisan kutipan dan kaitannya dengan sumber rujukan
jenis- jenis kutipan :
a. Kutipan langsung:
Kutipan Langsung ialah kutipan yang sama persis dengan teks aslinya,tidak boleh ada perubahan.Kalau ada hal yang dinilai salah/meragukan,kita beri tanda ( sic! ),yang artinya kita sekedar mengutip sesuai dengan aslinya dan tidak bertanggung jawab atas kesalahan itu.Demikian juga kalau kita menyesuaikan ejaan,memberi huruf kapital,garis bawah,atau huruf miring,kita perlu menjelaskan hal tersebut, missal [ huruf miring dari pengutip ],[ ejaan disesuaikan dengan EYD ],dll. Bila dalam kutipan terdapat huruf atau kata yang salah lalu dibetulkan oleh pengutip,harus digunakan huruf siku [ … ].
b. Kutipan tidak lansung ( Kutipan Isi )
Dalam kutipan tidak langsung kita hanya mengambil intisari pendapat yang kita kutip.Kutipan tidak langsung ditulis menyatu dengan teks yang kita buat dan tidak usah diapit tanda petik.Penyebutan sumber dapat dengan sistem catatan kaki,dapat kjuga dengan sistem catatan langsung seperti telah dicontohkan.
d. Kutipan pada catatan kaki
e. Kutipan atas ucapan lisan
f. Kutipan dalam kutipan
g. Kutipan langsung pada materi
Kutipan merupakan suatu gagasan atau ide / pendapat yang diambil dari suatu sumber tertentu. Ada beberapa contoh sumber pengambilan gagasan, kamus, ensiklopedia, artikel, buku, novel, cerita, majala, internet, laporan, dan sebagainya. Proses saat pengambilan gagasan / ide tersebut disebut dengan mengutip.
Dalam penulisan ilmiah diperlukan adanya kutipan – kutipan yang dapat menjadi sumber penulisan tersebut. Sebuah kutipan dapat mengokohkan suatu argumentasi dari sebuah karangan. Seorang penulis tidak perlu membuang waktu untuk menyelidiki suatu hal yang sudah dibuktikan kebenarannya oleh penulis lain, penulis cukup mengutip karya orang lain tersebut. Dalam tulisan ilmiah, baik berupa artikel, karya tulis, skripsi, tesis, dan disertasi selalu terdapat kutipan.
Kutipan tersebut bertujuan sebagai :
- Landasan teori
- Penguat pendapat dari penulis
- Bahan bukti untuk menunjang pendapat tersebut
- Penjelasan suatu uraian
Hal hal yang perlu diperhatikan oleh seorang penulis :
- penulis mempertimbangkan bahwa kutipan itu perlu
- penulis bertanggung jawab penuh terhadap ketepatan dan ketelitian kutipan
- kutipan dapat terkait dengan penemuan teori
- jangan terlalu banyak mempergunakan kutipan langsung
- penulis mempertimbangkan jenis kutipan, kutipan langsung atau kutipan tak langsung
- perhatikan teknik penulisan kutipan dan kaitannya dengan sumber rujukan
jenis- jenis kutipan :
a. Kutipan langsung:
Kutipan Langsung ialah kutipan yang sama persis dengan teks aslinya,tidak boleh ada perubahan.Kalau ada hal yang dinilai salah/meragukan,kita beri tanda ( sic! ),yang artinya kita sekedar mengutip sesuai dengan aslinya dan tidak bertanggung jawab atas kesalahan itu.Demikian juga kalau kita menyesuaikan ejaan,memberi huruf kapital,garis bawah,atau huruf miring,kita perlu menjelaskan hal tersebut, missal [ huruf miring dari pengutip ],[ ejaan disesuaikan dengan EYD ],dll. Bila dalam kutipan terdapat huruf atau kata yang salah lalu dibetulkan oleh pengutip,harus digunakan huruf siku [ … ].
b. Kutipan tidak lansung ( Kutipan Isi )
Dalam kutipan tidak langsung kita hanya mengambil intisari pendapat yang kita kutip.Kutipan tidak langsung ditulis menyatu dengan teks yang kita buat dan tidak usah diapit tanda petik.Penyebutan sumber dapat dengan sistem catatan kaki,dapat kjuga dengan sistem catatan langsung seperti telah dicontohkan.
d. Kutipan pada catatan kaki
e. Kutipan atas ucapan lisan
f. Kutipan dalam kutipan
g. Kutipan langsung pada materi
Rabu, 24 November 2010
TOPIK
Pengertian topik :
Topik adalah bagian dari karangan dimana mencakup secara keseluruhan dari isi karangan yang akan disampaikan kepada pembaca. Oleh karena itu topik juga harus memenuhi syarat-syarat yang baik agar topik tersebut memenuhi criteria yang baik untuk sebuah karangan. Topik sering kali disebut juga sebagai judul.
Dalam pembuatan sebuah karangan tentunya harus memiliki sebuah judul. Dimana judul tersebut m,mencakup secara keseluruhan dari karangan yang ingin disampaikan oleh penulis. Oleh karena itu judul harus dipilih dengan baik dan memiliki syarat-syarat yang baik untuk dijadikan judul.
Syarat judul/topik yang baik :
- Judul harus relevan, judul harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau dengan beberapa bagian yang penting dari tema tersebut.
- judul harus dapat menimbulkan keingintahuan pembaca terhadap isi buku atau karangan.
- Judul harus singkat, tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Bila harus membuat judul yang panjang, ciptakanlah judul utama yang singkat dengan judul tambahan yang panjang.
- Judul tidak provokatif.
- Judul harus singkat dan padat,
- Judul harus dapat menarik perhatian, serta menggambarkan garis besar (inti) pembahasan.
Pembatasan Topik
Penulis harus memilih topik yang tepat untuk karangannya. Agar dapat diminati dan disukai oleh pembacanya. Penulis pun harus membatasi topik yang akan digunakannya. Setiap penulis harus betul-betul yakin bahwa topik yang dipilihnya cukup sempit dan terbatas atau sangat khusus untuk dipakai, sehingga tulisannya dapat terfokus.
Untuk melakukan pembatasan terhadap topik dapat dilakukan beberapa hal, seperti dibawah ini:
1. Topik sebaiknya diletakkan pada bagian tengah atas.
2. Dengan melakukan pembatasan terhadap topik, berarti penulis mengetahui benar maksud dari topik yang diambilnya itu.
3. Pembatasan dan penyempitan topik akan memungkinkan penulis untuk mengadakan penelitian yang lebih intensif mengenai masalahnya. Dengan pembatasan itu penulis akan lebih mudah memilih hal-hal yang akan dikembangkan.
Topik adalah bagian dari karangan dimana mencakup secara keseluruhan dari isi karangan yang akan disampaikan kepada pembaca. Oleh karena itu topik juga harus memenuhi syarat-syarat yang baik agar topik tersebut memenuhi criteria yang baik untuk sebuah karangan. Topik sering kali disebut juga sebagai judul.
Dalam pembuatan sebuah karangan tentunya harus memiliki sebuah judul. Dimana judul tersebut m,mencakup secara keseluruhan dari karangan yang ingin disampaikan oleh penulis. Oleh karena itu judul harus dipilih dengan baik dan memiliki syarat-syarat yang baik untuk dijadikan judul.
Syarat judul/topik yang baik :
- Judul harus relevan, judul harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau dengan beberapa bagian yang penting dari tema tersebut.
- judul harus dapat menimbulkan keingintahuan pembaca terhadap isi buku atau karangan.
- Judul harus singkat, tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Bila harus membuat judul yang panjang, ciptakanlah judul utama yang singkat dengan judul tambahan yang panjang.
- Judul tidak provokatif.
- Judul harus singkat dan padat,
- Judul harus dapat menarik perhatian, serta menggambarkan garis besar (inti) pembahasan.
Pembatasan Topik
Penulis harus memilih topik yang tepat untuk karangannya. Agar dapat diminati dan disukai oleh pembacanya. Penulis pun harus membatasi topik yang akan digunakannya. Setiap penulis harus betul-betul yakin bahwa topik yang dipilihnya cukup sempit dan terbatas atau sangat khusus untuk dipakai, sehingga tulisannya dapat terfokus.
Untuk melakukan pembatasan terhadap topik dapat dilakukan beberapa hal, seperti dibawah ini:
1. Topik sebaiknya diletakkan pada bagian tengah atas.
2. Dengan melakukan pembatasan terhadap topik, berarti penulis mengetahui benar maksud dari topik yang diambilnya itu.
3. Pembatasan dan penyempitan topik akan memungkinkan penulis untuk mengadakan penelitian yang lebih intensif mengenai masalahnya. Dengan pembatasan itu penulis akan lebih mudah memilih hal-hal yang akan dikembangkan.
Selasa, 16 November 2010
Pola Pengembangan Paragraf
Pengembangan paragraf mencakup dua persoalan utama, yakni:
1. Kemampuan memerinci gagasan utama paragraf ke dalam gagasan-gagasan penjelas.
2. Kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan penjelas kedalam gagasan-gagasan penjelas.
Gagasan utama paragraf akan menjadi jelas apabila dilakukan perincian yang cermat. Perincian-perincian itu dapat dilakukan dengan bermacam pola pengembangan. Pola pengembangan yang dipakai, antara lain ditentukan oleh gagasan atau masalah yang hendak dikemukakan. Misalnya, apabila gagasan yang hendak disampaikan itu berupa urutan peristiwa, maka pola pengembangan yang sebaiknya dipilih adalah pola kronologis (naratif) atau proses (eksposisi). Lain lagi apabila masalahnya itu mengenai sebab-akibat suatu kejadian, maka pola yang dipilih adalah pola kausalitas (eksposisi, Argumentasi). Pilihan pola pengembangan ditentukan pula oleh pandangan penulis itu sendiri terhadap masalah yang hendak disampaikannya.
Sumber : http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/pola-pengembangan-paragraf/
1. Kemampuan memerinci gagasan utama paragraf ke dalam gagasan-gagasan penjelas.
2. Kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan penjelas kedalam gagasan-gagasan penjelas.
Gagasan utama paragraf akan menjadi jelas apabila dilakukan perincian yang cermat. Perincian-perincian itu dapat dilakukan dengan bermacam pola pengembangan. Pola pengembangan yang dipakai, antara lain ditentukan oleh gagasan atau masalah yang hendak dikemukakan. Misalnya, apabila gagasan yang hendak disampaikan itu berupa urutan peristiwa, maka pola pengembangan yang sebaiknya dipilih adalah pola kronologis (naratif) atau proses (eksposisi). Lain lagi apabila masalahnya itu mengenai sebab-akibat suatu kejadian, maka pola yang dipilih adalah pola kausalitas (eksposisi, Argumentasi). Pilihan pola pengembangan ditentukan pula oleh pandangan penulis itu sendiri terhadap masalah yang hendak disampaikannya.
Sumber : http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/pola-pengembangan-paragraf/
Paragraf Narasi
Paragraf narasi adalah paragraf yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian sedemikian rupa sehingga pembaca seolah-olah mengalami sendiri kejadian yang diceritakan itu. Dalam paragraf narasi terdapat tiga unsur utama yaitu tokoh-tokoh, kejadian, dan latar ruang atau waktu.
Berdasarkan materi pengembangannya, paragraf narasi terbagi ke dalam dua jenis, yakni narasi fiksi dan narasi nonfiksi.
Narasi fiksi adalah narasi yang mengisahkan peristiwa-peristiwa imajinatif.
Narasi fiksi disebut juga narasi sugestif.
Contohnya: novel dan cerpen.
Narasi nonfiksi adalah narasi yang mengisahkan peristiwa-peristiwa faktual, suatu yang ada dan benar-benar terjadi.
Narasi ini disebut juga narasi ekspositori.
Contohnya biografi dan laporan perjalanan.
Perbedaan yang lebih jelas antara narasi fiktif dan nonfiktif adalah sebagai berikut:
Narasi Fiksi
1.Menyampaikan makna atau amanat secara tersirat sebagai sarana rekreasi rohaniah.
2.Menggugah majinasi.
3.Penalaran difungsikan sebagai alat pengungkap makna, kalau perlu dapat diabaikan.
4.Bahasa cenderung figuratif dan menitikberatkan penggunaan konotasi.
Narasi Nonfiksi
1.menyampaikan informasi yang memperluas pengetahuan.
2.memperluas pengetahuan atau wawasan.
3.Penalaran digunakan sebagai sarana untuk mencapai kesepakatan rasional.
4.Bahasanya cenderung informatif dan menitikberatkan penggunaan makna denotasi.
SUMBER :
http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/pola-pengembangan-paragraf/
Berdasarkan materi pengembangannya, paragraf narasi terbagi ke dalam dua jenis, yakni narasi fiksi dan narasi nonfiksi.
Narasi fiksi adalah narasi yang mengisahkan peristiwa-peristiwa imajinatif.
Narasi fiksi disebut juga narasi sugestif.
Contohnya: novel dan cerpen.
Narasi nonfiksi adalah narasi yang mengisahkan peristiwa-peristiwa faktual, suatu yang ada dan benar-benar terjadi.
Narasi ini disebut juga narasi ekspositori.
Contohnya biografi dan laporan perjalanan.
Perbedaan yang lebih jelas antara narasi fiktif dan nonfiktif adalah sebagai berikut:
Narasi Fiksi
1.Menyampaikan makna atau amanat secara tersirat sebagai sarana rekreasi rohaniah.
2.Menggugah majinasi.
3.Penalaran difungsikan sebagai alat pengungkap makna, kalau perlu dapat diabaikan.
4.Bahasa cenderung figuratif dan menitikberatkan penggunaan konotasi.
Narasi Nonfiksi
1.menyampaikan informasi yang memperluas pengetahuan.
2.memperluas pengetahuan atau wawasan.
3.Penalaran digunakan sebagai sarana untuk mencapai kesepakatan rasional.
4.Bahasanya cenderung informatif dan menitikberatkan penggunaan makna denotasi.
SUMBER :
http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/pola-pengembangan-paragraf/
Paragraf Eksposisi
Paragraf eksposisi adalah paragraf yang memaparkan atau menerangkan suatu hal atau objek. Dari paragraf Jenis ini diharapkan para pembaca dapat memahami hal atau objek itu dengan sejelas-jelasnya. Untuk memaparkan masalah yang dikemukakan, paragraf eksposisi menggunakan contoh, grafik, serta berbagai bentuk fakta dan data lainnya. Sedikitnya terdapat tiga pola pengembangan paragraf eksposisi, yakni dengan cara proses, sebab dan akibat, serta ilustrasi.
a. Pola Proses
Proses merupakan suatu urutan dari tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu atau urutan dari suatu kejadian atau peristiwa. Untuk menyusun sebuah proses, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1) penulis harus mengetahui perincian-perincian secara menyeluruh.
2) penulis harus membagi proses tersebut atas tahap-tahap kejadiannya.
3) penulis menjelaskan tiap urutan itu ke dalam detail-detail yang tegas sehingga pembaca dapat melihat seluruh prose dengan jelas.
b. Pola Sebab Akibat
Pengembangan paragraf dapat pula dinyatakan dngan menggunakan sebab-akibat. Dalam hal ini sebab bisa bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan akibat sebagai perincian pengembangannya. Namun demikian, dapat juga terbalik. Akibat dijadikan gagasan utama, sedangkan untuk memahami sepenuhnya, akibat itu perlu dikemukakan sejumlah sebab sebagai perinciannya.
Persoalan sebab-akibat sebenarnya sangat dekat hubungannya dengan proses. Bila disusun untuk mencari hubungan antara bagian-bagiannya, maka proses itu dapat disebut proses kausal.
c. Pola Ilustrasi
Sebuah gagasan yang terlalu umum, memerlukan ilustrasi-ilustrsi konkrit. Dalam karangan eksposisi, ilustrasi-ilustrsi tersebut tidak berfungsi untuk membuktikan suatu pendapat. Ilustrasi-ilustrsi tersebut dipakai sekedar untuk menjelaskan maksud penulis. Dalam hal ini pengamatan-pengamatan pribadi merupakan bahan ilustrasi yang paling efektif dalam menjelaskan gagasan-gagasan umum tersebut.
SUMBER :
http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/pola-pengembangan-paragraf/
a. Pola Proses
Proses merupakan suatu urutan dari tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu atau urutan dari suatu kejadian atau peristiwa. Untuk menyusun sebuah proses, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1) penulis harus mengetahui perincian-perincian secara menyeluruh.
2) penulis harus membagi proses tersebut atas tahap-tahap kejadiannya.
3) penulis menjelaskan tiap urutan itu ke dalam detail-detail yang tegas sehingga pembaca dapat melihat seluruh prose dengan jelas.
b. Pola Sebab Akibat
Pengembangan paragraf dapat pula dinyatakan dngan menggunakan sebab-akibat. Dalam hal ini sebab bisa bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan akibat sebagai perincian pengembangannya. Namun demikian, dapat juga terbalik. Akibat dijadikan gagasan utama, sedangkan untuk memahami sepenuhnya, akibat itu perlu dikemukakan sejumlah sebab sebagai perinciannya.
Persoalan sebab-akibat sebenarnya sangat dekat hubungannya dengan proses. Bila disusun untuk mencari hubungan antara bagian-bagiannya, maka proses itu dapat disebut proses kausal.
c. Pola Ilustrasi
Sebuah gagasan yang terlalu umum, memerlukan ilustrasi-ilustrsi konkrit. Dalam karangan eksposisi, ilustrasi-ilustrsi tersebut tidak berfungsi untuk membuktikan suatu pendapat. Ilustrasi-ilustrsi tersebut dipakai sekedar untuk menjelaskan maksud penulis. Dalam hal ini pengamatan-pengamatan pribadi merupakan bahan ilustrasi yang paling efektif dalam menjelaskan gagasan-gagasan umum tersebut.
SUMBER :
http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/pola-pengembangan-paragraf/
Paragraf Deskripsi
Paragraf deskripsi adalah jenis paragraf yang menggambarkan sesuatu dengan jelas dan terperinci. Pola pengembangan paragraf deskripsi, antara lain, meliputi pola pengembangan spasial dan pola sudut pandang.
a. Pola Spansial
Pola spansial adalah pola pengembangan paragraf yang didasarkan atas ruang dan waktu. Pola ini menggambarkan suatu ruangan dari kiri ke kanan, dari timur ke barat, dari bawah ke atas, dari depan ke belakang, dan sebagainya. Uraian tentang kepadatan penduduk suatu daerah dapat dikemukakan dengan landasan urutan geografi (misalnya: dari barat ke timur atau dari utara ke selatan). Deskripsi mengenai sebuah gedung bertingkat dapat dilakukan dari tingkat pertama berturut-turut hingga tingkat terakhir, penggambaran terhadap suasana suatu lingkungan dapat dilakukan mulai dari siang, sore, hingga malam hari.
b. Pola Sudut Pandang
Pola sudut pandang adalah pola pengembangan paragraf yang didasarkan tempat atau posisi seorang penulis dalam melihat sesuatu. Pola sudut pandang tidak sama dengan pola spansial. Dalam pola ini penggambaran berpatokan pada posisi atau keberadaan penulis terhadap objek yang digambarkannya itu. Untuk menggambarkan sesuatu tempat atau keadaan, pertama-tama penulis mengambil sebuah posisi tertentu. Kemudian, secara perlahan-lahan dan berurutan, ia menggambarkan benda demi benda yang terdapat dalam tempat itu, yakni mulai dari yang terdekat kepada yang terjauh.
SUMBER :
http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/pola-pengembangan-paragraf/
a. Pola Spansial
Pola spansial adalah pola pengembangan paragraf yang didasarkan atas ruang dan waktu. Pola ini menggambarkan suatu ruangan dari kiri ke kanan, dari timur ke barat, dari bawah ke atas, dari depan ke belakang, dan sebagainya. Uraian tentang kepadatan penduduk suatu daerah dapat dikemukakan dengan landasan urutan geografi (misalnya: dari barat ke timur atau dari utara ke selatan). Deskripsi mengenai sebuah gedung bertingkat dapat dilakukan dari tingkat pertama berturut-turut hingga tingkat terakhir, penggambaran terhadap suasana suatu lingkungan dapat dilakukan mulai dari siang, sore, hingga malam hari.
b. Pola Sudut Pandang
Pola sudut pandang adalah pola pengembangan paragraf yang didasarkan tempat atau posisi seorang penulis dalam melihat sesuatu. Pola sudut pandang tidak sama dengan pola spansial. Dalam pola ini penggambaran berpatokan pada posisi atau keberadaan penulis terhadap objek yang digambarkannya itu. Untuk menggambarkan sesuatu tempat atau keadaan, pertama-tama penulis mengambil sebuah posisi tertentu. Kemudian, secara perlahan-lahan dan berurutan, ia menggambarkan benda demi benda yang terdapat dalam tempat itu, yakni mulai dari yang terdekat kepada yang terjauh.
SUMBER :
http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/pola-pengembangan-paragraf/
Paragraf Argumentasi
Argumentasi bermakna ‘alasan’. Argumentasi berarti pemberian alasan yang kuat dan meyakinkan. Dengan demikian, paragraf argumentasi adalah paragraf yang mengemukakan alasan, contoh, dan bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan. Alasan-alasan, bukti, dan sejenisnya, digunakan penulis untuk mempengaruhi pembaca agar mereka menyetujui pendapat, sikap atau keyakinan.
Dalam beberapa hal memang terdapat beberapa persamaan antara paragraf-paragraf eksposisi, yang telah kita pelajari terdahulu, dengan paragraf argumentasi. Persamaan tersebut, antara lain bahwa kedua jenis paragraf tersebut sama-sama memerlukan data dan fakta yang meyakinkan. Namun demikian, terdapat pula perbedaan yang mencolok antara keduanya.
Untuk lebih jelasnya persamaan dan perbedaan antara paragraph eksposisi dan argumentasi adalah sebagai berikut.
a. persamaan
1) Argumentasi dan eksposisi sama-sama menjelaskan pendapat, gagasan dan keyakinan kita.
2) Argumentasi dan eksposisi sama-sama memerlukan fakta yang diperkuat atau dipenjelas dengan angka, peta, grafik, diagram, gambar, dan lain-lainnya.
3) Argumentasi dan eksposisi sama-sama memerlukan analisis dan sintesis dalam pembahasannya.
4) Argumentasi dan eksposisis sama-sama menggali idenya dari:
a) pengalaman,
b) pengamatan dan penelitian,
c) sikap dan keyakinan.
b. Perbedaan
1) Tujuan eksposisi hanya menjelaskan dan menerangkan sehingga pembaca memperoleh informasi yang sejelas-jelasnya. Argumentasi bertujuan untuk mempengaruhi pembaca sehingga pembaca menyetujui bahwa pendapat, sikap dan keyakinan kita benar.
2) Eksposisi menggunakan contoh, grafik, dan lain-lainnya untuk menjelaskan sesuatu yang kita kemukakan. Argumentasi memberi contoh, grafik, dan lain-lainnya untuk membuktikan bahwa sesuatu yang kita kemukakan itu benar.
3) Penutup pada akhir eksposisi biasanya menegaskan lagi dari sesuatu yang telah diuraikan sebelumnya.
4) Penutup pada akhir argumentasi biasanya berupa kesimpulan atas sesuatu yang telah diuraikan sebelumnya.
SUMBER :
http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/pola-pengembangan-paragraf/
Dalam beberapa hal memang terdapat beberapa persamaan antara paragraf-paragraf eksposisi, yang telah kita pelajari terdahulu, dengan paragraf argumentasi. Persamaan tersebut, antara lain bahwa kedua jenis paragraf tersebut sama-sama memerlukan data dan fakta yang meyakinkan. Namun demikian, terdapat pula perbedaan yang mencolok antara keduanya.
Untuk lebih jelasnya persamaan dan perbedaan antara paragraph eksposisi dan argumentasi adalah sebagai berikut.
a. persamaan
1) Argumentasi dan eksposisi sama-sama menjelaskan pendapat, gagasan dan keyakinan kita.
2) Argumentasi dan eksposisi sama-sama memerlukan fakta yang diperkuat atau dipenjelas dengan angka, peta, grafik, diagram, gambar, dan lain-lainnya.
3) Argumentasi dan eksposisi sama-sama memerlukan analisis dan sintesis dalam pembahasannya.
4) Argumentasi dan eksposisis sama-sama menggali idenya dari:
a) pengalaman,
b) pengamatan dan penelitian,
c) sikap dan keyakinan.
b. Perbedaan
1) Tujuan eksposisi hanya menjelaskan dan menerangkan sehingga pembaca memperoleh informasi yang sejelas-jelasnya. Argumentasi bertujuan untuk mempengaruhi pembaca sehingga pembaca menyetujui bahwa pendapat, sikap dan keyakinan kita benar.
2) Eksposisi menggunakan contoh, grafik, dan lain-lainnya untuk menjelaskan sesuatu yang kita kemukakan. Argumentasi memberi contoh, grafik, dan lain-lainnya untuk membuktikan bahwa sesuatu yang kita kemukakan itu benar.
3) Penutup pada akhir eksposisi biasanya menegaskan lagi dari sesuatu yang telah diuraikan sebelumnya.
4) Penutup pada akhir argumentasi biasanya berupa kesimpulan atas sesuatu yang telah diuraikan sebelumnya.
SUMBER :
http://adegustiann.blogsome.com/2009/02/02/pola-pengembangan-paragraf/
kerangka karangan / outline
Definisi Kerangka karangan
Kerangka karangan merupakan rancangan pembuatan karangan yang berbentuk kalimat-kalimat. Kerangka karangan biasanya hanya terdiri dari satu kalimat saja, karena kerangka karanganadalah inti dari sebuah paragraf, dimana nantinya akan dikembangkan menjadi sebuah paragraf. Kerangka karangan harus dibuat secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur.
Manfaat kerangka karangan
Manfaat kerangka karangan antara lain :
- Bermanfaat untuk membantu penyusunan sebuah karangan agar menjadi teratur dan terarah.
- Mempermudah penulis untuk menentukan klimaks dari sebuah karangan.
- Membantu penulis untuk mencari bahan pembuatan kalimat pengembang kerangka karangan tersebut. Dsb…
Macam – macam pola susunan kerangka karangan
1. Pola alamiah
Susunan kerangka karangan secara urutan kronologis keadaan sebenarnya (yang nyata di alam).
Susunan alamiah ini dapat dibagi menjadi tiga bagian :
a. Berdasarkan urutan ruang, contoh :
Topic : kemacetan
Tema : lokasi rawan kemacetan
Tujuan : untuk mengetahui lokasi terjadi kemacetan
b. Berdasakan urutan urutan waktu, contoh :
Topic : budaya
Tema : perkembangan budaya dari waktu ke waktu
Tujuan : untuk mengetahui perkembangan budaya
c. Berdasarkan urutan topic yang ada, contoh :
Topic : korupsi
Tema : kasus korupsi yang terjadi di Indonesia
Tujuan : untuk mengetahui sebab dan akibat kasus korupsi di Indonesia
2. Pola logis
Susunan kerangka karangan berdasarkan urutan yang masuk akal dan dapat dimengerti oleh setiap pembaca.
Susunan secara logis ini terbagi menjadi beberapa bagian, antara lain :
a. Klimaks – anti klimaks
Kerangka karangan yang awalnya merupakan puncak dari inti karangan, dan semakin keakhir, semakin tidak klimaks (hanya berisi kalimat penjelas).
b. Umum – khusus
Kerangka karangan yang awalnya hanya berisi kalimat penjelas dan semakin keakhir, semakin menuju inti dari karangan tersebut.
c. Sebab – akibat
Kerangka karangan yang berisi sebab dan akibat dari suatu hal yang dibicarakan dalam karangan tersebut.
d. Proses
Kerangka karangan yang berisi langkah – langkah (proses).
e. Dll…
Kerangka karangan merupakan rancangan pembuatan karangan yang berbentuk kalimat-kalimat. Kerangka karangan biasanya hanya terdiri dari satu kalimat saja, karena kerangka karanganadalah inti dari sebuah paragraf, dimana nantinya akan dikembangkan menjadi sebuah paragraf. Kerangka karangan harus dibuat secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur.
Manfaat kerangka karangan
Manfaat kerangka karangan antara lain :
- Bermanfaat untuk membantu penyusunan sebuah karangan agar menjadi teratur dan terarah.
- Mempermudah penulis untuk menentukan klimaks dari sebuah karangan.
- Membantu penulis untuk mencari bahan pembuatan kalimat pengembang kerangka karangan tersebut. Dsb…
Macam – macam pola susunan kerangka karangan
1. Pola alamiah
Susunan kerangka karangan secara urutan kronologis keadaan sebenarnya (yang nyata di alam).
Susunan alamiah ini dapat dibagi menjadi tiga bagian :
a. Berdasarkan urutan ruang, contoh :
Topic : kemacetan
Tema : lokasi rawan kemacetan
Tujuan : untuk mengetahui lokasi terjadi kemacetan
b. Berdasakan urutan urutan waktu, contoh :
Topic : budaya
Tema : perkembangan budaya dari waktu ke waktu
Tujuan : untuk mengetahui perkembangan budaya
c. Berdasarkan urutan topic yang ada, contoh :
Topic : korupsi
Tema : kasus korupsi yang terjadi di Indonesia
Tujuan : untuk mengetahui sebab dan akibat kasus korupsi di Indonesia
2. Pola logis
Susunan kerangka karangan berdasarkan urutan yang masuk akal dan dapat dimengerti oleh setiap pembaca.
Susunan secara logis ini terbagi menjadi beberapa bagian, antara lain :
a. Klimaks – anti klimaks
Kerangka karangan yang awalnya merupakan puncak dari inti karangan, dan semakin keakhir, semakin tidak klimaks (hanya berisi kalimat penjelas).
b. Umum – khusus
Kerangka karangan yang awalnya hanya berisi kalimat penjelas dan semakin keakhir, semakin menuju inti dari karangan tersebut.
c. Sebab – akibat
Kerangka karangan yang berisi sebab dan akibat dari suatu hal yang dibicarakan dalam karangan tersebut.
d. Proses
Kerangka karangan yang berisi langkah – langkah (proses).
e. Dll…
syarat judul
Dalam pembuatan sebuah karangan tentunya harus memiliki sebuah judul. Dimana judul tersebut m,mencakup secara keseluruhan dari karangan yang ingin disampaikan oleh penulis. Oleh karena itu judul harus dipilih dengan baik dan memiliki syarat-syarat yang baik untuk dijadikan judul.
Syarat judul yang baik :
- Judul harus relevan, judul harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau dengan beberapa bagian yang penting dari tema tersebut.
- judul harus dapat menimbulkan keingintahuan pembaca terhadap isi buku atau karangan.
- Judul harus singkat, tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Bila harus membuat judul yang panjang, ciptakanlah judul utama yang singkat dengan judul tambahan yang panjang.
- Judul tidak provokatif.
- Judul harus singkat dan padat,
- Judul harus dapat menarik perhatian, serta menggambarkan garis besar (inti) pembahasan.
Syarat judul yang baik :
- Judul harus relevan, judul harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau dengan beberapa bagian yang penting dari tema tersebut.
- judul harus dapat menimbulkan keingintahuan pembaca terhadap isi buku atau karangan.
- Judul harus singkat, tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Bila harus membuat judul yang panjang, ciptakanlah judul utama yang singkat dengan judul tambahan yang panjang.
- Judul tidak provokatif.
- Judul harus singkat dan padat,
- Judul harus dapat menarik perhatian, serta menggambarkan garis besar (inti) pembahasan.
Minggu, 14 November 2010
PERSUASI
Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu. Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.
Langkah menyusun persuasi:
1.Menentukan topik/tema
2.Merumuskan tujuan
3.Mengumpulkan data dari berbagai sumber
4.Menyusun kerangka karangan
5.Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan persuasi
SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Karangan
Langkah menyusun persuasi:
1.Menentukan topik/tema
2.Merumuskan tujuan
3.Mengumpulkan data dari berbagai sumber
4.Menyusun kerangka karangan
5.Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan persuasi
SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Karangan
Langganan:
Postingan (Atom)